Afirmasi.news, Minahasa – Ketakutan akan hilangnya peran guru atau punahnya skripsi akibat kecerdasan buatan (AI) dijawab dengan perspektif berbeda oleh Dr.(c) Heidi Kristian Repi.
Dalam Kuliah Perdana Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) UNIMA yang akan digelar Senin (2/2/2026), praktisi digital yang akrab disapa Tian ini membawa misi besar: mengubah ketakutan menjadi adopsi.
Menurut penulis buku The Digital Dictator ini, AI bukanlah ancaman yang harus dimusuhi, melainkan “anak jenius tanpa moral” yang butuh dididik oleh manusia.
”AI hanya punya data, tapi moral dan etika datang dari kita. Tugas kita bukan melawan, tapi menjadi ‘orang tua’ yang mendidik AI melalui jejak digital yang berkualitas,” ungkap Tian.
Poin Utama yang Akan Dibedah:
-
Pergeseran Mindset: Berhenti takut digantikan AI dan mulai belajar mengendalikannya.
-
Warisan Digital: Bagaimana aktivitas kita di internet hari ini menjadi “kurikulum” bagi masa depan AI.
-
Reputasi sebagai Aset: Strategi mahasiswa FIPP membangun profil digital yang jujur, sehat, dan bernilai ekonomi tinggi.
Kuliah perdana ini diharapkan menjadi katalisator bagi mahasiswa Unima untuk tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi arsitek masa depan yang mampu menjaga sisi humanis di tengah gempuran digitalisasi.
Catat Agendanya:
-
Waktu: Senin, 2 Februari 2026
-
Lokasi: Aula FIPP UNIMA







